Belajar, Bukan Dicekokin Pelajaran

Belajar, Bukan Dicekokin Pelajaran

Minggu ini siswa kami sudah kembali lagi ke rutinitas belajar-mengajar seperti biasa, setelah dua ahad berturut-turut kami belajar dengan menyesuaikan dengan tema yang spesifik, yaitu kemerdekaan dan hari raya qurban. Dua minggu kemarin siswa kami belajar dengan keluar dari rutinitas yang ada untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual

Di pekan yang pertama, kami memberi nama pekan tersebut ‘Ayyamul Istiqlal’ atau ‘hari-hari kemerdekaan’. Dengan menyambut hari kemerdekaan Indonesia, siswa kami belajar mengenai peran islam dalam menyikapi kemerdekaan dan perjuangannya. Pekan tersebut dibuka dengan siswa belajar mengenai ‘fiqh jihad’ dasar. Di sana mereka diberikan pemahaman bagaimana Islam menyikapi perjuangan dalam kemerdekaan, bagaimana adab dalam perang dan definisi jihad itu sendiri bagi anak seusia mereka. Selain itu mereka juga diberikan pemahaman perbedaan mengenai jihad yang sebenarnya dengan terorisme yang marak terjadi sekarang ini. Melalui pembelajaran ini, siswa kami ‘disadarkan’ bahwa apa yang mereka lakukan selama ini – sekolah, belajar, menghargai orang lain dan lingkungan – adalah ‘jihad’ yang sesuai untuk anak seusia mereka, dengan didasari ‘lillaahita’ aala’

Mereka juga belajar sejarah bagaimana organisasi – organisasi Islam, seperti Muhammadiyah, NU, Persis, Masyumi, memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka pun mengetahui bahwa perjuangan para Kyai dan Santri dalam perang kemerdekaan bukan hanya angkat senjata melawan penjajah saja, tetapi juga melengkapi diri dengan adab dan ilmu berorganisasi yang dibutuhkan untuk terjun ke masyarakat dan menyemangati rakyat bahwa perang kemerdekaan bukan hanya perang fisik, tetapi juga memperkuat intelektualitas mereka. Cerita mengenai KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Ashari sekarang melekat dalam benak mereka sebagai pejuang kemerdekaan juga.

Para siswa juga diberi kesempatan untuk melakukan syiar mengenai ibadah di bulan Dzulhijah kepada warga sekitar. Setelah sowan dengan RT dan tokoh masyarakat setempat, para siswa bergerak membawa brosur ibadah di bulan dzulhijjah untuk dibagikan kepada warga di sekitar komplek sekolah kami berada. Disini kemampuan komunikasi dan persuasi mereka diuji: bagaimana bersikap sopan pada orang lain, menyampaikan sesuatu agar didengar orang lain dan memilih kata-kata yang baik untuk disampaikan. Sebuah langkah awal bagi mereka untuk terjun ke masyarakat.

Menyikapi kemerdekaan Indonesia juga tidak lengkap tanpa sedikit kompetisi. Setelah berdiskusi dengan para siswa, maka kami juga mengadakan kompetisi menghias kelas dengan bahan daur ulang, lomba memasak untuk siswa perempuan dan lomba futsal untuk siswa laki-laki . Semua lomba tersebut membutuhkan kolaborasi, keahlian dan kreativitas, sesuatu yang sangat krusial di masa sekarang ini. Pada akhirnya, mereka belajar bahwa kompetisi bukanlah saling menjatuhkan, tapi bagaikan bisa mengekspresikan apa yang mereka pikirkan, punya dan tunjukkan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan belajar dari satu sama lain. Senang melihat para siswa dan siswi kami menjalani lomba – lomba tersebut dengan keterbukaan satu sama lain dan bisa bersenang – senang di dalamnya 🙂

Pekan berikutnya, hari raya Idul Adha menjadi tema kami. Siswa belajar bagaimana proses qurban dari sisi ilmiah: apa yang terjadi saat hewan disembelih, bagaimana penyembelihan yang baik secara ilmiah, apa yang terjadi pada tubuh hewan setelah disembelih. Lalu, dilanjutkan dengan mempelajari fiqh qurban: adab memperlakukan hewan qurban, adab menyembelih dan syarat-syarat bolehnya hewan dijadikan qurban. Para siswa kami bisa belajar bagaimana qurban secara syar’i juga singkron dengan penyembelihan secara ilmiah, misalnya adab memperlakukan hewan qurban dengan tidak memperlihatkan pisau di depan hewannya dan tidak memperlihatkan hewan yang disembelih di depan hewan yang hidup. Secara ilmiah, ini ditujukan agar hewan tidak stress, yang dapat membuat proses penyembelihan menjadi susah, penuntasan darah tidak maksimal dan bahkan memengaruhi kualitas daging hewan yang disembelih.

Tentu saja setelah selesai ‘berteori ria’ mereka mempraktikkan bagaimana menyembelih hewan secara sehat. Praktik kali ini menggunakan ayam pedaging agar prosesnya lebih mudah. Selain itu para siswa juga belajar bagaikan membersihkan bulu ayam yang ada, membersihkan isi perutnya dan memotong karkas ayam menjadi bagian-bagian yang bisa diolah. Experience is truly one of the best ways to learn.

Pada hari pertama tasyriq, kami juga mengadakan simulasi pemotongan hewan qurban di sekolah. Seluruh warga sekolah – Guru dan siswa – punya peran masing-masing; guru menyembelih, siswa laki-laki menguliti dan memisahkan daging dari tulang, sementara para siswi menyiapkan bumbu memasak dan memotong-memotong daging untuk siap dibuatkan saté. Pada saat penyembelihan, kami tidak mengharuskan siswa kami untuk melihatnya. Kami maklum bahwa sebagian siswa belum, atau bahkan tidak siap dalam melihat penyembelihan hewan. Pun bagi mereka yang tidak tahan mencium bau daging segar setelah disembelih. Mereka diberi tanggung jawab lain yang jauh dari itu semua, misalnya membersihka terpal, mencuci alat masak dan sampah-sampah yang tersisa. Seluruh warga sekolah harus punya peran. Pada akhirnya, kebersamaan sebagai warga Sekolah Islam Bogor lah yang kami rasakan dalam rangkaian kegiatan ini.

Inti dari apa yang saya ceritakan ini adalah bahwa belajar itu bukan dicekoki materi pembelajaran, kejar tayang mengincar hasil ujian saja. Siswa bisa belajar dengan baik – afektif, kognitif dan psikomotorik nya bisa terasah – apabila belajar secara kontekstual, diberi tanggung jawab diberi pengalaman yang nyata. Nah, sudahkah kita sebagai guru dan sekolah melakukannya? Hanya Anda yang bisa menjawabnya

Wallahua’lam bisshawab

 

 

Klik Untuk Chat
👋 Hubungi Kami Via Whatsapp, Team Customer Support Online Kami Siap. Tanyakan Apapun Kepada Kami.